BIRU = BOBOTOH INDEPENDENT RAJAPOLAH UNITED

1/21/2011

Ketika Bobotoh Mempersoalkan Kualitas Siaran Langsung Sepakbola Nasional Di Indonesia


Penggemar sepakbola tidak hanya senang menyaksikan strategi permainan yang memikat tetapi juga menonton tayangan siaran langsung sepakbola yang tak kalah berkualitas.

Di tengah teknologi yang serbacanggih, sulit bagi wasit mengelak dari kesalahan yang diperbuatnya saat memimpin pertandingan. Lihat Piala Dunia lalu ketika wasit Jorge Larrionda asal Uruguay tidak mengesahkan tendangan Frank Lampard menjadi gol meski sudah melewati garis gawang Manuel Neuer.

Atau lihat pula pertandingan Persisam Samarinda menjamu Persib Bandung, Kamis (20/1) sore kemarin.

Tak bisa dimungkiri, nama besar Persib menjadi gula siaran langsung Superliga Indonesia di televisi. Sejarah panjang Persib dengan status sejumlah pemain timnas Indonesia, tentu menyedot perhatian masyarakat banyak, baik yang berada di Bandung maupun tidak. Jika Persib bermain di kandang sendiri, seisi kota Bandung mendadak kosong karena perhatian tertuju ke stadion
Begitu pula halnya ketika Persib bermain di luar kandang. Bobotoh dengan setia menggelar acara nonton bareng di mana saja, mulai dari pasar tradisional, pangkalan ojek, lapangan terbuka, kafe, bioskop, gedung olahraga, bahkan hingga hanggar pesawat.

Jika ada tim yang menolak disiarkan langsung karena takut pendapatan dari penjualan tiket berkurang, manajemen Persib malah menyambut gembira. Alasannya, selain bisa mengurangi kepadatan di stadion saat Persib bermain kandang, siaran langsung setidaknya dinilai dapat mengurangi kesalahan yang dilakukan oleh perangkat pertandingan saat berlaga jauh dari Bandung.

Namun harapan tinggal harapan, bahkan dengan siaran langsung pun wasit masih melakukan kesalahan fatal. Beragam keputusan keliru seperti off-side, tekel keras, penalti, handsball, tabrakan pemain, dan lain-lain, tetap saja terjadi.

Dalam sepekan ini kita bisa mengambil beberapa contoh. Pertama ketika terjadinya gol pertama Arema ke gawang Persiba, Rabu (20/1). Dalam sepekan ini kita ambil beberapa contoh. Pertama ketika terjadinya gol pertama Arema ke gawang Persiba, Rabu (20/1). Dari layar kaca selintas terlihat Leonard Tupamahu berdiri dalam posisi off-side saat menyontek bola. Namun replay hanya sekilas hingga penonton dibuat penasaran.

Lainnya hadir dari laga Persisam melawan Persib. Dalam sebuah adegan di babak pertama, Hilton Moreira melesat ke depan keluar dari jebakan off-side, tetapi wasit mengangkat bendera, ironisnya televisi mengambil replay dari sudut belakang gawang! Dari mana pemirsa tahu itu off-side atau tidak? Belum lagi banyak episode rawan kontroversi tanpa replay.

Contoh selanjutnya mungkin akan menjadi misteri dan seperti biasanya tenggelam dimakan waktu. Sebagian penonton pasti bertanya-tanya, mengapa Gonzales dikartumerah. Tayangan replay yang diharapkan bisa menjadi jawaban, tak kunjung datang.
Betul, wasit cuma manusia yang tak lepas dari kesalahan. Aksi pemain di lapangan kadang berjalan sangat cepat sehingga sulit ditangkap mata telanjang. Otoritas sepakbola internasional mencoba meminimalkan kesalahan manusiawi tersebut dengan menugaskan petugas tambahan seperti ofisial keempat, teknologi perangkat earpiece, hingga ofisial kelima. Setidaknya di mancanegara telah muncul keinginan memperbaiki taraf perwasitan, Indonesia terlelap.

Bagi pemirsa, terkadang pula sulit mengikuti apa yang baru saja terjadi. Rasa penasaran akan memuncak, apalagi jika baru saja terjadi insiden yang berbau kontroversial seperti off-side, diving hingga tekel di dekat garis kotak terlarang.

Untuk itulah pemirsa bersedia meluangkan waktu memelototi televisi - bahkan di Eropa pemirsa membayar mahal untuk bisa menonton pertandingan di layar kaca - karena televisi bisa menyiarkan peristiwa tersebut berulang-ulang hingga pertanyaan dianggap terjawab dan terpuaskan.

Di Indonesia, belum ada keinginan memperbaiki kualitas perwasitan, demikian pula tayangan televisi. Kita terkadang terlalu mempermasalahkan sudut pengambilan gambar yang terkesan statis, padahal di balik itu banyak yang bisa digali dan menjadikan sepakbola lebih menarik lagi.

Di luar harapan perbaikan kualitas perwasitan nasional, siaran langsung sejatinya bisa membantu meningkatkan kualitas sepakbola Indonesia dengan memberikan nilai edukatif bagi fans. Sayangnya, hal tersebut belum dimaksimalkan.

Pemirsa Indonesia bisa banyak belajar tentang peraturan off-side, handsball aktif dan tidak aktif, hingga jarak pagar hidup saat terjadi tendangan bebas menurut regulasi, dan lain-lain. Bayangkan, jika potensi siaran langsung televisi dimaksimalkan, apa yang tersaji di lapangan menjadi bukti, koreksi, hingga edukasi bagi publik.

Saat ini, mungkin bobotoh yang paling ramai membahas pertandingan melawan Persisam, tapi saya percaya semua pecinta sepakbola nasional menginginkan peningkatan kualitas siaran langsung demi terciptanya kemajuan.
Read More »»