BIRU = BOBOTOH INDEPENDENT RAJAPOLAH UNITED

11/11/2010

Menunggu Persetujuan Pemegang Saham

Jajaran manajemen dan komisaris PT Persib Bandung Bermartabat ternyata sudah melakukan evaluasi menyeluruh terkait hasil buruk tim di 6 laga awal Liga Super Indonesia yang sudah dijalani Persib Bandung. Hasil buruk tersebut membenamkan prestasi Persib di papan bawah dengan koleksi 1 kali kemenangan, 1 seri dan 4 kali kekalahan dengan nilai hanya 4 poin saja.

Hasil evaluasi tim ini sudah dikantongi pengurus namun karena belum dilakukan pertemuan dengan pemegang saham, maka belum ada keputusan apapun yang dibuat. Termasuk dengan masa depan Jovo Cuckovic sebagai pelatih kepala Persib yang mulai dari pertandingan ke-5 sudah mulai terancam posisinya.

“Belum ada keputusan tentang posisi pelatih. Kami masih akan membahasnya bersama pemegang saham,” ujar manajer H Umuh Muhtar.

Pertemuan dengan para pemegang saham pun rencananya akan dilakukan secepatnya dan diharapkan minggu depan, saat para pemain Persib sudah memulai latihan, keputusan strategis tentang tim sudah didapat.

Sebelumnya, H Umuh sendiri mengakui sudah melakukan evaluasi menyeluruh secara internal pada senin (8/11) malam. Dan ia juga mengakui bahwa masa depan pelatih Jovo adalah bahasan utama dalam pertemuan tersebut. Hasilnya sudah didapat dan akan dibawa pada pertemuan dengan para pemegang saham.

Pada evaluasi ini, pelatih Jovo Cuckovic sendiri tidak dilibatkan. Dalam pertemuan tersebut selain H Umuh Muhtar, dihadiri pula oleh wakil manajer H Dedi Firmansyah, komisaris utama Zaenuri Hasyim, wakil komisaris Kuswara S Taryono, dan asisten pelatih Robby Darwis.


Read More »»

El Loco Serius Bawa Timnas Juara

Photobucket
JAKARTA, TRIBUN - Striker tersubur Liga Indonesia, Cristian "El Loco" Gonzalez, akhirnya hadir dalam sesi latihan timnas Indonesia, Rabu (10/11) pagi, setelah dua hari absen karena istrinya sakit. Kehadiran Gonzalez dalam sesi latihan timnas memberikan warna baru karena striker yang saat latihan mengenakan kostum nomor punggung 17 ini merupakan pemain asing pertama yang mendapatkan naturalisasi dari pemerintah.

Ujung tombak Maung Bandung ini ketika dikonfirmasi mengenai latihan perdananya di timnas Indonesia mengaku bangga dan senang dipanggil memperkuat timnas. Dirinya meminta maaf karena absen dalam dua hari sesi latihan sebelumnya. "Senang karena bisa berlatih bersama pemain timnas. Saya senang, di sini teman-teman pemain lainnya menyambut dengan baik," kata Gonzalez.

Gonzalez berjanji akan serius mengikuti pelatnas ini agar keseriusannya tersebut berbuah sebuah keberhasilan merengkuh gelar juara Piala AFF untuk bangsa Indonesia. "Saya akan serius berlatih dan serius untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat Indonesia," katanya.

Gonzalez merupakan pemain pertama yang bisa merebut gelar top skor Liga Indonesia 4 kali berturut-turut, satu gelar Liga Indonesia, top skor Piala Indonesia dan mendapatkan penghargaan dari FIFA sebagai pemain paling berpengaruh di benua Asia tahun 2009.

Nama Gonzalez awalnya tak masuk ke dalam draft pemain asing yang akan dinaturalisasi. Namun, dikarenakan timnas membutuhkan striker yang memiliki ketajaman dan naluri gol tinggi, akhirnya Badan Tim Nasional mendesak pemerintah untuk menaturalisasi sriker yang kini menginjak usia 34 tahun ini. Masuknya Gonzalez akan menambah variasi di lini depan timnas, setelah sebelumnya sudah terdaftar Bambang Bepe Pamungkas dan Boaz Salossa. Trio pemegang sepatu emas (top skor) Liga Indonesia diharapkan menjadi ujung tombak yang tajam di Piala AFF nanti.

"Saya hanya akan berusaha sekuat tenaga menunjukkan kemampuan terbaik saya untuk mempersembahkan yang terbaik bagi timnas Indonesia. Kesempatan berkostum Indonesia tidak akan saya sia-siakan," kata Gonzalez.
Read More »»

Umuh: Persib Harus Rotasi Pemain

BANDUNG, TRIBUN - Evaluasi masih belum rampung dilakukan namun manajemen Persib sudah memberikan sinyal tegas harus adanya rotasi pemain oleh jajaran pelatih Persib saat kompetisi bergulir Januari tahun depan.
Menurut manajer Persib, Umuh Muhtar, rotasi dimaksudkan untuk memberikan variasi dan skema permainan baru sehingga bisa mendongkrak performa tim yang saat ini merosot hingga menempatkan Persib di zona play off Liga Indonesia.

"Kemarin, sempat disinggung bahwa lini belakang harus mendapatkan perhatian khusus karena gawang Persib banyak dibobol lawan, tapi lini depan juga harus mendapatkan perhatian juga karena penyerang kita belum memberikan hasil yang maksimal," kata Umuh.

Dijelaskannya, untuk lini belakang jajaran pelatih harus bisa beberapa variasi dan kombinasi dalam menempatkan komposisi pemain yang ideal sehingga kekuatan lini belakang bertambah. "Lini belakang harus diperbaiki secara maksimal, jangan sampai gawang kita mudah ditembus oleh penyerang lawan," katanya.

Dalam dua laga terakhir Persib, seiring dengan absennya beberapa pemain inti di lini belakang, jajaran pelatih sudah bisa menilai kualitas beberapa pemain yang diturunkan di posisi baru. Seperti saat melawan Persija (30/10), Gilang dicoba bermain di bek kanan. Kemudian saat melawan PSPS (2/11) giliran Baihakki yang dicoba bermain di bek tengah. Dari perubahan-perubahan tersebut, kata Umuh, jajaran pelatih sudah memiliki pegangan untuk melakukan variasi dan kombinasi baru di lini belakang.

Sementara untuk lini depan, kata Umuh, kini akan banyak lagi kombinasi pemain untuk menjadi penggedor pertahanan lawan seiring sudah resminya Hilton Moreira menjadi skuad Persib. "Siapa pun sudah tahu kualitas duet Gonzalez-Hilton musim lalu, jadi dengan bergabungnya Hilton bisa menambah serangan Persib jadi lebih bervariasi," kata Umuh.

Ditambah lagi dengan penampilan Rahmat Affandi yang semakin matang, membuat jajaran pelatih bisa mengkombinasikannya dengan striker lainnya. "Rahmat bermain cukup baik, namun dia tidak diberikan waktu yang lama di lapangan, dia hanya diturunkan 10 - 15 menit saja," katanya.

Manajemen berharap apapun hasil dari evaluasi nantinya, perombakan komposisi pemain di lapangan harus dilakukan sehingga setiap pertandingan permainan Persib selalu bervariasi. "Sehingga permainan Persib tak mudah dibaca oleh tim lawan," lanjutnya.( tribunjabar )
Read More »»

Gawat, Persib Masuk Zona Degradasi

Persib Bandung akhirnya masuk zona degradasi menyusul kemenangan Persijap Jepara atas Persisam Putra Samarinda 1-0 pada pertandingan lanjutan Liga Super Indonesia 2010-2011 di Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara, Rabu (10/11). Gol tunggal kemenangan "Laskar Kalinyamat" dalam pertandingan tersebut dicetak melalui tandukan Youn Son Min pada menit ke-16. Tambahan tiga angka tersebut membuat Persijap naik satu tingkat ke peringkat 14 klasemen sementara dengan mengumpulkan nilai 7. Persijap menurunkan posisi Persib yang sebelumnya di peringkat tersebut ke zona degradasi (peringkat 15-18) karena baru mengumpulkan nilai 4 dari 6 laga yang sudah dimainkannya.

Posisi Persib masih mungkin terus tertekan ke dasar klasemen karena dua tim di bawahnya, Persibo Bojonegoro dan Bontang FC akan bertanding di Stadion H. Letjen Sudirman Bojonegoro, Kamis (11/11). Dari 6 laga yang sudah dimainkannya, Persibo mengumpulkan nilai 2 dan Bontang FC 4. Satu tim lain yang berada di bawah Persib dan siap meninggalkan zona merah adalah Pelita Jaya Karawang yang mengumpulkan nilai 4. Saat Persib libur bertanding, pada November ini Persibo, Bontang FC, dan Pelita Jaya masih akan bermain sehingga berpelung menambah poin, yang otomatis bisa menggeser posisi "Maung Bandung". "Ini lebih disebabkan karena mereka (tim di zona degradasi,-red) tetap main. Sementara kita tidak," kata Asisten Pelatih Persib, Robby Darwis. ***

Jadwal Tiga Tim Terbawah

Tanggal Pertandingan
11-11-2010
Persibo vs Bontang FC
14-11-2010 Persijap vs Bontang FC

Persibo vs Persisam Putra
21-11-2010 PSM vs Pelita Jaya
Read More »»

11/10/2010

Wildansyah Manfaatkan Liburan dengan Kuliah

Siapa sangka, Wildansyah, bek kiri Persib mengisi waktu rehat latihan dengan kuliah. Bagi dirinya, pendidikan merupakan salah satu kewajiban yang harus dijalani, selain berlatih bersama tim agar dapat memberikan yang terbaik di lapangan untuk kemajuan Persib. "Bagi saya kuliah itu penting, untuk masa depan saya. Selagi masih ada waktu dan tenaga, kenapa tidak," ujarnya, Selasa (9/11).

Wildansyah menimba ilmu di FISIP Unpas jurusan Ilmu komunikasi angkatan 2010 bersama Airlangga Sutjipto, mengambil kelas karyawan untuk lebih memudahkan dirinya mengatur jadwal kuliah dan berlatih bersama Persib. Menurutnya, kelas karyawan adalah pilihan terbaik untuk melanjutkan pendidikan. "Kebetulan Persib sedang libur latihan, saya lebih memilih kuliah dari pada berdiam diri. Oleh karena itu, saya mengambil kelas karyawan agar bisa lebih maksimal," ujarnya.

Meski harus berlatih pagi dan sore hari, para pemain Persib yang juga berkuliah di FISIP jurusan Ilmu komunikasi UNPAS seperti Atep dan Eka Ramdani selalu menyempatkan masuk kuliah di malam hari. "Lelah dan konsentrasi berkurang itu biasa, bukan kami (pemain Persib) saja yang merasakan demikian. Namanya juga kelas karyawan, otomatis yang kuliah di kelas itu biasanya pagi hingga sore mereka kerja dan malam harinya mereka kuliah," ujarnya.
Menurut Wildansyah, tidak ada perbedaan mata kuliah antara kelas karyawan dan reguler. Hanya saja bagi mahasiswa kelas karyawan materinya lebih padat, dan waktu untuk menjalani mata kuliah tertentu sedikit lebih lama dari kelas reguler. Berbicara cita-cita, pria yang lebih dikenal dengan sapaan Idun ini menuturkan, sampai saat ini dirinya belum merencanakan hal-hal yang terlalu jauh. Ia hanya akan konsentrasi untuk memberikan penampilan terbaiknya di Persib dan lebih giat kuliah agar cepat lulus. "Untuk saat ini saya hanya ingin yang terbaik bagi semua, ya di Persib juga di kuliah," ujarnya

Menurutnya, bagi para pemain Persib, sangat sulit untuk hadir disetiap jadwal kuliah yang ditentukan. Kendalanya adalah jadwal latihan yang padat serta harus melakukan pertandingan di luar kota. "Meski kami selalu menyempatkan diri untuk kuliah, tetapi kami terkadang terbentur oleh jadwal pertandingan tandang yang membuat kami harus bolos kuliah," ujarnya.***
Read More »»

Arti Pahlawan Bagi Bangsa

Tanggal 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hari di mana para pejuang Indonesia mempertahankan………
kedaulatan negara yang dicoba dirampas kembali kemerdekaannya oleh Belanda yang membonceng sekutu di kota Surabaya. Dalam pertempuran yang menewaskan banyak pejuang itu, Bung Karno pernah menyebutnya sebagai sebuah peristiwa heroik dengan semangat macan.

Memang mempertahankan kemerdekaan amat berat. Kita tahu bahwa hal itu adalah sebuah perjuangan yang dihiasi oleh darah dan air mata. Amat terasalah perjuangan itu ketika pertama-tama berada dalam situasi kemerdekaan. Memang benar tidak semudah merebutnya.
Kini situasi sudah jauh berubah. Tak ada lagi penjajahan sebab seluruh bangsa-bangsa di dunia ini sudah menjadi negara berdaulat dan kemerdekaaan sudah menjadi sebuah hal universal bagi seluruh negara di manapun itu.
Masalah yang kita hadapi adalah bagaimana mengisi dan mempertahankan kemerdekaaan. Semangat 10 Nopember adalah kekuatan untuk hal itu. Kita tahu bahwa persoalan yang kita hadapi sekarang ini adalah persoalan yang berat. Penjajah memang tak lagi datang, tetapi bahwa model lain dari penjajahan itu sudah menjadi persoalan kita sejak lama.
Dari dalam diri kita sendiri, penjajah datang dalam bentuk kebuntuan cara berpikir. Persoalan besar kita adalah persoalan kemiskinan, kebodohan, kemelaratan politik serta apatisme. Orientasi ke masa depan hampir tidak ada. Kalau kita berjalan sampai ke pelosok dan pedalaman negeri ini, yang ada hanyalah ketidakmampuan mengerti dan merancang mengenai masa depan.
Hal ini berkaitan dengan cara berpikir. Kita terbiasa tidak mau berjuang sebab kita mewarisi sebuah negeri yang sudah merdeka. Kita terbiasa hidup dalam kenyamanan kemapanan yang ada. Sebab kita adalah negeri yang amat terbiasa hidup dalam kenyamanan kehidupan yang semu. Sejak kita merdeka, memang negara ini tidak pernah membangkitkan semangat. Kita selalu dihantui oleh ketakutan jika berpartisipasi akan menghadapi masalah dari negeri ini.
Maka yang terjadi kini adalah sebuah negara tanpa arah dan tanpa semangat. Perhatikanlah setiap anak-anak yang bersekolah. Mereka memang pergi dan pulang, tetapi tidak tahu mengenai apa artinya masa depan. Perhatikan mereka yang bekerja, tanyakan apa yang sedang dikerjakan, pastilah akan menjawab untuk kepentingan dan investasi keluarganya sendiri. Tanyakan pada para birokrat, apa yang sedang mereka lakukan, mereka pasti menjawab bagaimana supaya mereka bisa tetap memperoleh gaji tanpa harus repot-repot.
Setiap orang di negeri ini memang amat sulit memperoleh napas baru bernama semangat tadi. Bandingkan dengan mereka yang tanpa tedeng aling-aling berjuang, angkat senjata dan menyerahkan nyawanya 10 Nopember 1948 silam. Mereka bersedia menyerahkan apa saja, demi satu tujuan yang membakar semangat mereka, yaitu mempertahankan kemerdekaan negerinya.
Sudah saatnyalah elit politik dan pemimpin negeri ini berhenti berbicara mengenai diri dan mereka saja. Sudah saatnya yang dibicarakan adalah bagaimana menyelamatkan negeri ini supaya bisa bertahan. Harus jujur kita akui bahwa fondasi semangat negeri ini sudah sangat rapuh. Yang ada adalah disharmoni, perebutan dan intrik politik serta korupsi. Bangsa ini harus dibangkitkan kembali semangatnya untuk bangkit dan mempertahankan ancaman yang datangnya dari dalam diri kita sendiri. (***)
Menumbuhkan Heroisme Baru
NEGARA tanpa pahlawan sama artinya negara tanpa kebanggaan. Jika sebuah negara tak memiliki tokoh yang bisa dibanggakan, negeri itu miskin harga diri. Ia bahkan bisa menjadi bangsa kelas teri. Karena itu, setiap negara mestinya memiliki tokoh yang disebut pahlawan.
Pahlawan menjadi penting karena ia memberi inspirasi. Inspirasi untuk selalu memperbaiki kondisi negeri. Inspirasi agar bangsa ini terus bangkit. Dan, bangsa ini sesungguhnya mempunyai amat banyak orang yang memberi inspirasi itu.
Persoalannya, apakah kita mampu ‘mengambil’ inspirasi dan kemudian secara terus-menerus mempunyai spirit untuk memperbaiki bangsa ini?
Karena itu, memperingati Hari Pahlawan seperti pada hari ini merupakan saat tepat untuk evaluasi ulang pemahaman kita akan arti pahlawan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi seremoni hampa makna, tak membuat perubahan apa pun bagi negara. Negara seperti dibiarkan berjalan menuju bibir jurang.
Setiap generasi memang memiliki persoalan dan tantangannya sendiri. Dulu, musuh utama bangsa ini adalah penjajah. Heroisme untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan pun menjadi pekik yang tidak pernah berhenti disuarakan.
Kini, siapa yang layak menjadi musuh bangsa ini? Musuh besar kita tak lain dan tak bukan adalah korupsi, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Itulah sejumlah masalah utama yang dihadapi negeri ini sekarang.
Korupsi seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Orang justru berlomba-lomba mengeruk uang negara. Dan, itu terjadi di semua level yang menyebar baik di pusat maupun di daerah. Hampir di semua jajaran, baik yudikatif, legislatif, maupun eksekutif, terjangkit penyakit korupsi kronis.
Jumlah orang miskin juga seperti tak ada habis-habisnya. Padahal, pembangunan terus dilakukan. Tentu ada yang salah atau tidak beres dalam proses pembangunan kita. Salah dalam tataran perencanaan dan implementasi. Sebab masih amat banyak yang berpikiran bahwa harta negara boleh diambil semau-maunya.
Kini bangsa ini juga mengalami problem amat serius, yakni ketidakpercayaan diri. Sebuah bangsa tanpa kepercayaan diri tidak mungkin bisa menghasilkan produk-produk unggul. Keunggulan hanya bisa diraih jika kita mempunyai kebanggaan akan bangsa dan negerinya sendiri.
Dengan inferioritas ini kita akan sulit bersaing di era global. Sebab globalisasi menuntut keunggulan. Tanpa keunggulan, kita hanya akan menjadi penonton yang bisa berteriak-teriak, tetapi tidak bisa menentukan apa-apa.
Itulah makna heroisme baru yang harus dibangun terus-menerus. Kita tidak ingin jasa para pahlawan dan nilai-nilai luhurnya hanya ada dalam ingatan, tapi terlupakan dalam tindakan.
Makna Pahlawan Masa Kini
Bangsa kita setiap tahun merayakan Hari Pahlawan pada 10 November. Pada saat itulah kita mengenang jasa para pahlawan yang telah bersedia mengorbankan harta dan nyawanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Kita memilih 10 November sebagai Hari Pahlawan karena pada tanggal tersebut 61 tahun silam para pejuang kita bertempur mati-matian untuk melawan tentara Inggris di Surabaya.
Saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang menggunakan bambu runcing. Namun para pejuang kita tak pernah gentar untuk melawan penjajah. Kita masih ingat tokoh yang terkenal pada saat perjuangan itu yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya. Ruslan Abdul Gani yang meninggal beberapa waktu lalu, adalah salah seorang pelaku sejarah waktu itu.
Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat seremonial. Memang kita tidak ikut mengorbankan nyawa seperti para pejuang di Surabaya pada waktu itu.
Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November.
Akan tetapi kepahlawanan tidak hanya berhenti di sana. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani? Bukankah makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan?
Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Dalam konteks ini kita dapat mengisi makna Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tahun pada 10 November, termasuk pada hari ini. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kita mencatat beberapa wilayah Indonesia masih dihantui tindakan teror. Kita membutuhkan orang yang berani untuk menangkap pelakunya. Negeri kita sedang dililit kanker korupsi yang sudah mencapai stadium terakhir. Kita membutuhkan orang-orang berani untuk memberantasnya. Seorang ilmuwan pun bisa menjadi pahlawan dalam bidangnya berkat penemuannya yang dapat menyejahterahkan orang banyak. Seorang petugas pemadam kebakaran yang tewas saat berjuang mematikan api yang sedang membakar rumah penduduk adalah pahlawan juga.
Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas ditembak dalam perjuangan reformasi sewindu lalu adalah pahlawan, meskipun negara belum menobatkan mereka sebagai pahlawan.
Memang tidak mudah untuk menjadi pahlawan. Mungkin lebih mudah bagi kita menjadi pahlawan bakiak, yaitu suami yang patuh (takut) kepada istrinya. Atau menjadi pahlawan kesiangan, yakni orang yang baru mau bekerja (berjuang) setelah peperangan (masa sulit) berakhir atau orang yang ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang.
Hari ini kita merayakan Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pejuang pada masa silam. Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang.
Renungan Hari Pahlawan
Harapan yang disampaikan Menko Polhukam Widodo AS sangatlah wajar. Masyarakat diminta berkontribusi dan mendukung pengungkapan aksi teror di Poso.
Keikutsertaan masyarakat sangat penting sebab penciptaan keamanan dan rasa aman bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan. Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan situasi kehidupan masyarakat yang damai dan aman.
Khusus untuk Poso, perhatian pantas diberikan lebih karena pelaku kejahatan dan teror diduga berada di tengah masyarakat. Mereka menjadi bagian dari masyarakat dan setiap kali bisa melakukan tindakan, yang bukan hanya menciptakan kepedihan bagi mereka yang menjadi korban, tetapi mengobarkan rasa permusuhan.
Pertentangan, perselisihan, dan konflik antarkelompok dalam masyarakat sering kali menimbulkan kepedihan hati. Mengapa? Karena kita sebenarnya satu bangsa. Pada dasarnya kita adalah satu saudara. Sejak 28 Oktober 1928, kita sudah sepakat untuk menanggalkan “kekamian” di antara kita dan menggantikannya menjadi “kekitaan” tanpa mempersoalkan kembali asal-usul kita, menanggalkan semua rasa primordial kita.
Hari ini, tanggal 10 November, ketika kita merayakan Hari Pahlawan untuk memperingati perjuangan Pendiri Bangsa dalam mempertahankan keberadaan Indonesia, rasa itu semakin dalam. Kita yang diberi nikmat kemerdekaan ternyata tidak mensyukurinya. Kita malah saling membenci, saling curiga, saling memusuhi, dan yang lebih memprihatinkan saling menyakiti.
Sungguh aneh, orang-orang yang dicurigai melakukan aksi kejahatan dan teror terhadap sesama warga kemudian dilindungi. Bahkan, akses bagi aparat keamanan untuk mengungkap kebenaran, menjelaskan duduknya perkara, kemudian justru seperti ditutup.
Di sini kita tentunya mengharapkan keterbukaan semua pihak untuk tidak membenarkan aksi kekerasan. Sejauh mungkin kita harus menghindarkannya karena itu hanya melukai kita sendiri sebagai sebuah bangsa.
Ketika seseorang terbukti melakukan tindak kekerasan, hukumlah yang harus berbicara. Aparat penegak hukum tidak perlu ragu untuk bersikap tegas menegakkan aturan. Demi tegaknya kewibawaan hukum, yang dibutuhkan untuk menciptakan ketertiban umum, tidak boleh ada kompromi terhadap aturan.
Di sinilah imbauan Menko Polhukam kita nilai tepat. Masyarakat yang selama ini dinilai melindungi mereka yang melanggar hukum harus ikut membantu dengan menyerahkan mereka kepada aparat. Biarlah kemudian aparat penegak hukum yang memproses sesuai dengan aturan yang berlaku.
Dalam persoalan Poso kita memang diingatkan bahwa penanganannya tidaklah mudah. Ibaratnya kita diminta untuk memegang telur. Kalau terlalu keras memegangnya, telur itu akan pecah, tetapi kalau terlalu longgar juga akan pecah karena akan terlepas dari tangan. Kita harus menanganinya secara tepat. Dan yang harus menjadi perhatian kita bersama janganlah masalah ini membuat kita sebagai bangsa jadi terpecah. Kasihan para pahlawan dan mereka yang berharap masa depan.
Dicari Pahlawan Anti Korupsi
Cerita korupsi tidak akan pernah habis kalau masih banyak orang masih sangat berkeinginan untuk tetap mencari kekayaan semata dalam kehidupannya. Dan Indonesia masih saja menjadi negara yang tidak lepas dari belenggu korupsi. Parahnya lagi pencegahan korupsi di Indonesia masih jalan di tempat. Bahkan dalam Indeks Persepsi Korupsi (IPK) dari 2,2 pada 2005 naik menjadi 2,4 pada 2006 yang dikeluarkan Transparency International (TI). Meski IPK Indonesia naik 0,2 poin, namun Indonesia masih berada di urutan 130 dari 163 negara yang disurvey, jauh berada di bawah Malaysia dengan IPK 5,0 dan Thailand dengan IPK 3,6. Itu belum lagi hasil survei yang dilakukan TI yang menunjukkan Instruksi Presiden No 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi selama ini hanya menjadi dokumen yang tersimpan dengan rapi di atas meja pimpinan unit-unit kerja pemerintahan, namun belum dijalankan dan belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Padahal, presiden melalui Inpres No 5 Tahun 2004 telah mengamanatkan peningkatan kualitas pelayanan publik di butir keempat Inpres itu dan penetapan program serta wilayah bebas korupsi di butir kelimanya. Tentunya hal ini menunjukkan betapa masih buramnya potret di Indonesia tentang penanganan korupsi. Sungguh menyedihkan di tengah usia Indonesia yang sudah mencapai 61 tahun.
Korupsi sepertinya telah menjadi bobrok utama masyarakat, bahkan menjadi budaya dari kalangan berpangkat sampai rakyat biasa. Ibarat suatu penyakit sudah menjadi sangat kronis dan sudah menjalar ke seluruh tubuh sehingga mengakibatkan rusaknya tatanan sendi-sendi perekonomian. Akibat korupsi tidak ada lagi orang yang bisa menjadi pahlawan dan anutan. Yang banyak berseliweran adalah orang-orang yang mengaku pahlawan.
Parahnya lagi lebih banyak masyarakat sekarang yang malah berlomba-lomba menjadi terhormat dengan melakukan korupsi tanpa malu-malu. Bahkan korupsi itu sudah berani memutuskan hukum secara tidak benar, atau yang sekarang cukup populer di masyarakat dengan istilah kalau bisa dipermudah mengapa dipersulit. Wah tentunya satu istilah yang sangat enak untuk didengar namun malah menjadi sebuah trend betapa kemudian seenaknya saja orang mencuri uang negara. Apakah keadaan ini harus terus dipertahankan. Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Namun tentunya saat ini yang sangat dicari adalah seorang pahlawan yang mampu memberantas korupsi yang sepertinya sudah berurat-berakar di negara ini. Dicari seorang yang berani menolak segala sesuatu pemberian hanya untuk kepentingan pribadinya. Orang yang berani memangkas birokrasi yang semuanya berujung kepada perilaku korupsi. Inilah yang menjadi satu tandatanya yang sangat besar dan menggelayut di dalam setiap pemikiran kita.
Bagaimana frame pahlawan anti korupsi tentunya sangat sulit untuk dijelaskan. Namun untuk dasarnya adalah bagaimana sosok hukum itu memberikan jaminan terwujudnya keadilan dan penegakan peraturan. Tetapi tetap saja hukum malah masih memberikan celah untuk seseorang dapat lepas misalnya dari jeratan hukum. Bahkan parahnya lagi ada seorang buronan koruptor di Banten masih enak berseliweran di tengah jalan raya sementara dirinya seharusnya sudah masuk dalam ruang tahanan untuk menjalani eksekusi terhadap perbuatannya yang merugikan negara selama ini.
Pahlawan anti korupsi itu tentunya adalah bagaimana hati nurani semua kita mampu berkata tidak pada saat kita melihat ada sesuatu yang sebenarnya tidak beres. Sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi hak kita. Tidak peduli dengan keadaan lingkungan sekitar yang memiliki harta berlimpah namun diperoleh dari hasil yang kurang sehat. Dan yang paling penting adalah bagaimana dia setiap saat takut dengan Tuhannya terhadap apa yang dilakukannya di muka bumi ini.
Sesungguhnya para pahlawan yang berjuang pada zaman revolusi dahulu jelas punya cita-cita mulia agar negara ini dapat berdiri dengan kukuh dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Para pahlawan rela berkorban agar anak cucunya tidak dicemoohkan oleh bangsa lain. Itulah yang seharusnya direnungkan semua kita bahwa kita memang harus bisa bangkit bukan sebagai negara juara satu koruptor namun menjadi negara yang nomor satu dalam kebersihannya dan kejujurannya.****


Read More »»

Bachdim Pulih dari Cedera, El Loco Latihan Perdana

JAKARTA – Irfan Bachdim sempat mengalami cedera engkel saat sesi latihan Timnas di Lapangan ABC, Senayan Jakarta, Selasa (9/11/2010) sore. Beruntung cederanya tidak parah, striker Persema Malang ini bisa kembali mengikuti latihan, Rabu pagi tadi.

Pada sesi latihan Selasa kemarin, Irfan Bachdim terpaksa beristirahat dan menghabisi sisa latihan dari pinggir lapangan, karena sempat terkilir setelah menendang bola.

Tim medis Timnas mengatakan cedera Irfan tidak parah namun perlu diistirahatkan sekira dua hari untuk bisa kembali mengikuti latihan tim yang dipersiapkan untuk Piala AFF Desember mendatang itu.

Latihan pagi tadi yang digelar sekira dua jam dari pukul 07.00 WIB itu juga sudah diikuti striker asal Persib Cristian ‘El-Loco’ Gonzales.Sebelumnya, striker naturalisasi berdarah Uruguay ini terpaksa absen dua hari sejak latihan perdana 8 November kemarin karena harus menemani istrinya yang sedang sakit.

“Saya senang bisa latihan bersama Bambang dan yang lain, selama ini kami bertanding di lapangan sekarang bisa latihan bersama,” kata Gonzales kepada wartawan di Lapangan ABC Senayan, Rabu (10/11/2010).

Dua pemain yang belum hadir yaitu Boaz Salossa dan Oktomaniani. Mengenai ketidakhadiran kedua pemain itu, pelatih Alfred Riedl akan menunggu hingga Kamis besok. Jika keduanya tetap absen, maka kemungkinan besar akan dicoret dari Timnas.

Selama satu pekan ini Alfred Riedl menekankan porsi latihan fisik pada Bambang Pamungkas dkk, setelah itu tim baru akan mendapatkan penggemblengan taktis bermain.

Sekretaris Alfred Riedl, Huda Setya memaparkan Alfred Riedl nantinya akan melakukan evaluasi terhadap para pemain termasuk membahas kemungkinan mengurangi jumlah skuad. “ Tapi kapan waktunya saya belum tahu,” kata Huda.
Read More »»